Salah satu aspek penting dalam peradaban Islam adalah peran utama moral dan spiritual. George Zaidan, penulis Kristen asal Lebanon menulis, “Langkah pertama yang dilakukan Rasulullah Saw setelah tiba di Madinah adalah menciptakan persaudaraan antara Mekah dan Madinah. Persaudaraan antara kaum Muhajirin dan Anshar merupakan bentuk persatuan Islam yang dicanangkan Rasulullah.” Menurut Zaidan, Islam dari awal menekankan aspek moralitas dan spiritualias.
Kategori agama (spritual) dan moral adalah dua hal yang berhubungan erat dengan kebudayaan dan peradaban. Kedua hal itu juga berperan penting dalam mengagungkan kebudayaan dan peradaban. Sebagian besar pemikir kontemporer sepakat bahwa meski Barat sukses di bidang teknologi dan sains, tapi terpuruk dari sisi moral. Dengan ungkapan lain, Barat dari sisi peradaban sama sekali tidak berkembang, bahkan malah terjebak dalam dekadensi. Sebagian besar pemikir juga meyakini bahwa peradaban Barat terpuruk karena tidak perhatian pada moral dan spritual.
Dalam kacamata orang-orang Barat yang benar-benar haus akan sentuhan spritual dan moral memandang Islamlah yang mampu memberikan kesegaran dan ketentraman pada mereka. Tapi dalam kacamata mereka yang anti Islam dan tak sadar akan kelemahannya, Islam dipandang sebagai ancaman yang paling besar. Seperti komentar seorang pakar politik Harvard, Samuel Hunthington dalam wawancaranya dengan majalah TIME (1993). Ia mempridiksikan di masa mendatang (pasca runtuhnya blok Timur), Islam satu-satunya peradaban yang akan konfrontasi dengan Barat. Jika kita cermati, setidaknya ada dua hal yang mendorong politikus ternama AS ini untuk menyatakan demikian, yaitu:
1. Kekhawatirannya akan bahaya menimpa peradaban Barat modern yang memang sudah di ambang kehancuran.
2. Ia telah melihat sendiri fenomena-fonomena yang terjadi di dunia saat ini khususnya dunia Islam, yaitu fenomena kebangkitan Islam kembali.
Fenomena di tanah air sendiri menjustifikasikan indikator-indikator tersebut Timbulnya Wa’yul islami (kesadaran akan nilai-nilai Islam) pada ummat yang ditandai dengan harakah-harakah Islamiyah, pengkajian, seminar,diskusi, simposium di kampus-kampus, masjid, pesantren dan tempat lainnya. Semaraknya di kalangan muslimah untuk berjilbab. Di bidang perekonomian ditandai dengan dibangunnya bank-bank yang berbasis syaria’h. Di bidang politik juga ditandai dengan hijaunya parlemen.
Semua fenomena ini patut kita jadikan dorongan untuk memberikan andil dalam rangka membangkitkan kembali peradaban Islam. Tentu saja yang memegang peranan penting dalam hal ini adalah pemuda Muslim.
Kapan dan berapa lama sebuah peradaban besar biasanya bertahan sebelum dikalahkan oleh peradaban besar lainnya. Kapan dan berapa lama sebuah bangsa mencapai klimaks kebangkitan/zaman keemasannya?. Sebuah peradaban besar akan bertahan beberapa abad. Peradaban besar itu adalah buah produk pencapaian alam pikir dari sebuah paradigma baru yang lazimnya dibangun oleh satu tangan generasi yang berhasil mencapai klimaks zaman keemasannya. Dan produk pencapaian alam pikir itu berawal dari sebuah grand strategi yang disusun/dipersiapkan beberapa tahun oleh elite suatu bangsa, khususnya generasi muda yang mempunyai kesadaran intelektual, kritis, dinamis, dan progresif.
Sebagai perdaban besar Islam telah lama mengundang rasa penasaran (cuiriouscity) para ahli dalam kajian Islam, sehingga di belahan bumi manapun Islam akan dikaji, baik sebagai sebuah ilmu pengetahuan maupun sebagai praktik kehidupan yang sesuai dengan fitrah dan semangat kemanusiaan.
Kajian akademis terhadap Islam dari klasik hingga modern telah membuka peradaban baru. Bahkan menimbulkan disiplin umum yang dikenal dengan Orientalisme. Dimana orang luar Islam memperbincangkan Islam baik sebagai ajaran maupun sebagai fenomena sosial. oksidentalisme dimana kita timur islam dalam melihat islam itu sendiri dan timur islam dalam melihat barat. Demikian juga tidak ketinggalan orang muslim yang menganut ajaran Islam bagaimana mengimplementasikan nilai-nilai Islam baik sebagai idelologi gerakan sosial, budaya, politik, dan ekonomi, upaya mencapai keadilan dan kesejahteraan, dengan semangat keislaman ramatan lil alamin, sebagaimana generasi terdahulu menjalankannya.
Sebagai generasi muda kita harus mengetahui dan mereformulasikan berbagai disiplin ilmu yang dikembangkan untuk mengkaji dan mendalami Islam sebagai fenomena sosial. Berbagai pendekatan kajian Islam dilakukan, berbagai metodologi dikembangkan sedemikian rupa untuk mengkaji relevansi Islam dengan peradaban yang saat ini berkembang, bahkan peradaban yang saat ini dinikmati tidak lepas dari sumbangan besar umat Islam dalam menjalankan agamanya.
Ada banyak kemungkinan yang terbuka tentang kajian Islam sebagai subyek dan metode-metode termasuk peran Islam sebagai kekuatan peradaban kultural dari perbedaan yang besar, meningkatnya partisipasi publik dalam masyarakat muslim oleh kaum perempuan yang memberikan kontribusi dan peran strategis, sejarah peradalaman muslim , sistem pertanian dan orang-orang pegunungan dari dunia muslim dan berbagai interaksi baru di antara umat muslim sekarang yang tinggal di negara-negara Barat yang sudah mulai menemukan jalan kebenaran dan hidayah karena pemanfaatan rasionya dalam mengkaji ilmu pengetahuan.
Dr. Muhammad Manzoor Alam dalam bukunya “Peran Pemuda Muslim Dalam Rekonstruksi Dunia Kontemporer” menyebutkan bahwa tantangan umum bagi pemuda Muslim di dunia kontemporer adalah “membangkitkan kembali Peradaban Islam”. Menyimak kata “kebangkitan”, memberikan suatu indikasi bahwa sebelum kejatuhannya pernah berjaya. “Kebangkitan Peradaban Islam” dapat disederhanakan dengan arti timbulnya kembali nilai-nilai Islam dan mewarnai dalam kehidupan ummat di dunia. Memang, tujuh abad pertama kaum Muslimin pernah mencapai masa keemasan dan tujuh abad berikutnya mengalami kemunduran.
Tanda-tanda kebangkitannya kembali semakin jelas. Sekarang permasalahannya adalah “bagaimana peradaban dan panji-panji Islam itu seharusnya dibangkitkan dan diaktualisasikan atau bagaimana seharusnya merealisasikan kalimat al Islaamu Ya’lu Wala Yu’la ‘Alaih”?
Peradaban dan panji-panji Islam akan bangkit tergantung kepada revolusi intelektual yang memerlukan perencanaan matang dengan memperhatikan kepentingan bersama. Kemudian menyusun strategi dan sasaran yang tepat. Untuk mengaktualisasikan kebangkitan Islam, pemuda Muslim harus menyusun skala prioritas yang merujuk kepada al-Qur’an dan Sunnah Shahihah. Ijtihad dan jihad adalah dua point yang tepat dalam kontek ini.
Peran lain yang harus dilakukan oleh pemuda Muslim adalah untuk memberikan warna (Shibghah) Islam dalam kehidupannya sehari-hari. Pemuda Muslim harus mempunyai wawasan pengetahuan yang tinggi dan baik-baik tentang keislaman maupun ilmu penunjang lainnya. Pemuda Muslim harus merancang suatu landasan berwawasan progresif dan dinamis yang akan memberikan tempat berpijak demi kemajuan dan peradaban Islam masa sekarang dan mendatang.
Kemudian yang tidak kalah pentingnya dari peran dan tugas tersebut adalah mengetahui akar penyebab kemunduran ummat Islam. Dalam hal ini masih menurut Dr. Muhammad Manzoor Alam, bahwa kurangnya penguasaan ilmu pengetahuan akar penyebab timbulnya permasalahan tersebut. Jadi, dengan kata lain, penguasaan ilmu pengetahuan dan islamisasi ilmu pengetahuan merupakan prasyarat untuk melanjutkan rekonstruksi Peradaban Islam itu. Di samping kurangnya penguasaan ilmu pengetahuan, ada satu hal yang sangat fundamental tentang penyebab kemunduran Peradaban Islam ini; yaitu mereka (kaum Muslimin) telah meninggalkan atau dijauhkan dari nilai-nilai ajaran al-Qur’an dan as-Sunnah.
Dalam bahasa sederhananya kaum Muslimin tidak lagi menjadikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, tugas pemuda dalam membangkitkan kembali peradaban Islam bukanlah tugas yang mudah. Mereka harus siap untuk tempur dalam menjawab tantangan-tantangan yang ada. Tantangan-tantangan itu beragam.
Kita sebut saja seperti tantangan ideologi, tantangan modernitas, tantangan invasi ekonomi politik, dan kebudayaan, eksploitasi kekayaan alam, tantangan arus globalisasi dan informasi, dan masih banyak tantangan lainnya.
Peran Pemuda Muslim di
Zaman Modern . Apabila berbicara tentang
pemuda, yang terbayang adalah kekuatan, semangat yang tinggi dan harapan yang
begitu besar. Secara fitrah, masa muda adalah masa yang paling optimal untuk
berfikir dengan kematangan jasmani, perasaan dan akalnya, sangat wajar jika
pemuda memiliki potensi yang besar dibandingkan dengan kelompok lainnya. Semangat
mereka bagaikan bom waktu yang siap meledak pada saat yang telah ditentukan,
sehingga tidak heran pemuda adalah harapan masa depan, semua bergantung di
pundak mereka, ibarat kapal merekalah yang memegang kemudi, mereka yang
menentukan hendak kemana kapal akan berlabuh.
Pemuda adalah agent of change
(agen perubahan) dalam semua lini kehidupan, karena mereka adalah penggerak
kemajuan dan peradaban. Perubahan dunia berada di tangan mereka, mereka selalu
berada di garis depan menuju kemajuan dan mengekspresikan kepentingan banyak
orang. Banyak perubahan yang terjadi berkat cengkraman kuat tangan-tangan para
pemuda. Negara-negara yang berkembang adalah negara yang bisa memaksimalkan
pemudanya dengan baik, belajar dari sejarah perkembangan Islam bahwa spirit ketauhidan
muncul dari dalam jiwa jiwa pemuda yang memiliki niat yang bersih, tulus untuk
menegakkan kalimat tauhid, sebut saja Zaid bin Tsabit, Arqom bin Abi Arqom, dan
Bilal bin Rabah, mereka adalah pemuda-pemuda tangguh yang siap mengorbankan apa
saja demi agama meski nyawa taruhannya, begitulah mahasiswa didikan Rasulullah
saw meski mereka tidak memiliki Universitas yang mewah.
Saat ini
ada sebuah pertanyaan yang selalu menunggu untuk dicari jawabannya adalah
dimanakah para pemuda muslim itu sekarang? Dimanakah mereka bersembunyi? Apakah
mereka bersembunyi seperti yang dilakukan Ashabul Kahfi? Mereka tidak lagi
seperti pelangi yang selalu memberikan warna warni yang indah dalam kehidupan,
mereka kini hilang ditelan zaman. Budaya hidup western sepertinya lebih
mendominasi dan mudah diterima, sementara budaya timur dan berbau agama
dianggap kuno. Gaya hidup, pakaian, bahasa, jauh dari norma, seolah semua
keinginan mereka harus dilampiaskan dengan tawuran, hidup hedonis, foya-foya
dan sedikit tidak beradab. Hidup bagaimanakah sebenarnya yang mereka cari?
Islam
begitu mengambil perhatian yang besar terhadap pemuda, Rasulullah saw bersabda:
"Ada tujuh golongan manusia yang akan dinaungi oleh Allah dalam naungan
(Arsy-Nya) pada hari yang tidak ada naungan (sama sekali) kecuali naungan-Nya:
…Dan seorang pemuda yang tumbuh dalam ibadah (ketaatan) kepada Allah."
Islam tidak membiarkan pemuda lepas kendali tanpa arahan, meskipun memang harus diakui bahwa hidup di zaman modern dan serba canggih ini tidaklah mudah, banyak sekali godaan bagi pemuda untuk memperturutkan hawa nafsunya, dengan segala fasilitas yang mudah dan instant membuat para pemuda islam terlena, tidak menyadari bahwa musuh-musuh Islam sedang mengintai mereka, melihat kelengahan mereka dan suatu saat bisa menerkam dan memenjarakan mereka dalam api penyesalan seumur hidupnya. Pemuda adalah asset paling berharga bagi setiap Negara terutama agama, mereka harus bisa memilih dan menentukan nasib mereka, karena jika pemuda itu baik, maka akan baiklah Negara dan agama.
Islam tidak membiarkan pemuda lepas kendali tanpa arahan, meskipun memang harus diakui bahwa hidup di zaman modern dan serba canggih ini tidaklah mudah, banyak sekali godaan bagi pemuda untuk memperturutkan hawa nafsunya, dengan segala fasilitas yang mudah dan instant membuat para pemuda islam terlena, tidak menyadari bahwa musuh-musuh Islam sedang mengintai mereka, melihat kelengahan mereka dan suatu saat bisa menerkam dan memenjarakan mereka dalam api penyesalan seumur hidupnya. Pemuda adalah asset paling berharga bagi setiap Negara terutama agama, mereka harus bisa memilih dan menentukan nasib mereka, karena jika pemuda itu baik, maka akan baiklah Negara dan agama.
Islam
selalu membimbing para pemudanya untuk kreatif, aktif dan optimis, sebuah
pepatah islam mengatakan: "Bukanlah pemuda jika ia mengatakan inilah
ayahku…akan tetapi pemuda adalah yang mengatakan inilah aku inilah
diriku."
Kemandirian
yang selalu diharapkan dari seorang pemuda, tidak hanya pandai menggunakan
fasilitas yang sudah tersedia, namun seharusnya pandai menciptakan peluang dan
kesempatan menjadi sebongkah berlian. Pada dasarnya kita merindukan pemuda yang
penuh dedikasi untuk orang tuanya, agama, bangsa yang semakin terpuruk ini,
bukan pemuda tawuran yang hanya menguras fikiran dan tenaga yang berujung pada
hancurnya sebuah Negara.
Pemuda Islam harus memiliki karisma dan pesona di mata dunia, dan mereka
harus:
1. Tidak
boleh membuang waktu hanya untuk hal yang sia-sia
Waktu luang bisa membinasakan pikiran, akal dan potensi fisik manusia,
karena manusia dituntut untuk beraktifitas dan berbuat. Rasulullah saw
bersabda: "Ada dua nikmat yang manusia sering melalaikannya yaitu nikmat
kesehatan dan waktu luang."
2. Memilih
teman yang baik
Kita tidak akan bisa menjauhi lingkungan karena sebagian besar kehidupan
dihabiskan bersama lingkungan, dan lingkungan juga yang mempengaruhi pola
fikir, tindakan dan tingkah laku kita, akan tetapi Allah swt memberikan kita
akal untuk berfikir mana yang terbaik buat hidup kita, maka sebijaksana mungkin
dalam memilih teman. Rasulullah saw bersabda: "Perumpamaan teman yang baik
dan teman yang buruk adalah seperti pembawa (penjual) minyak wangi dan peniup
al-kiir (tempat menempa besi), penjual minyak wangi akan menebarkan aroma yang
wangi meskipun engkau hanya terkena imbasnya, dan sebaliknya peniup al-kiir
(tempat menempa besi) bisa jadi (apinya) akan membakar pakaianmu atau
setidaknya kamu akan mencium aroma yang tidak sedap darinya."
3. Memilih
sumber bacaan yang baik dan bermanfaat
Bacalah
al-Qur’an sebagai penyembuh dan penentram jiwa, mengkonsumsi buku buku yang
baik akan menambah khazanah keilmuan para pemuda islam, sehingga membuka
wawasan untuk meluaskan ekspansi kekuasaan dalam urusan dunia maupun akhirat.
Pemuda islam tidak boleh kalah dengan informasi terkini tentang ilmu
pengetahuan, karena Islam tidak pernah membatasi ilmu itu didapat dari mana dan
siapa saja, asal tujuannya untuk kemaslahatan ummat, sebagaimana ulama-ulama
intelektual Islam mengembangkan ilmu mereka dengan membaca dan membaca,
sehingga lahirlah kreativitas mandiri yang salih yang bermanfaat sampai ke
akhir zaman.
Akhirnya sebagai harapan kepada pemuda Islam bahwa mereka bukanlah individu
yang cepat menyerah dan pasrah dengan keadaan, akan tetapi mereka adalah pemuda
yang teguh pendirian, memiliki agenda penuh dengan kemajuan yang tak terbatas
dengan kreasi-kreasi unik untuk memajukan agama, bangsa dan tanah air. Karena
kita tidak ingin menyesal nanti di hari tua dan di akhirat ketika Allah
bertanya sebagaimana Rasulullah saw bersabda: "Tidak akan bergeser kaki
seorang hamba dari sisi Allah pada hari kiamat nanti sehingga dimintai
pertanggungjawabannya tentang lima perkara: tentang umurnya untuk apa
dihabiskannya, masa mudanya digunakan untuk apa, hartanya dari mana diperoleh
dan ke mana dibelanjakan, serta bagaimana dia mengamalkan ilmunya.
"Wallahu a’lam bishshawab.

